Minggu, Januari 27, 2013

Ratatouille

Malam tadi gue gak kemana-mana. Kata sebagian orang, kelihatan banget jomblonya, tapi menurut gue gak selamanya Sabtu malam (yeah, bukan malam Minggu) harus dipake buat ketemu pasangan (kalau punya). That's too mainstream. Yang beda, dong... malam Jum'at, kek. Ke makam, sepi-sepi-asoy... *dicocolin yang baca pake rendang kamboja*

Jadi, semalam gue menghabiskan waktu dengan menonton DVD, salah satunya yang gue tonton adalah Ratatouille. Itu loh film tentang tikus pintar yang punya bakat untuk menjadi koki handal, kemudian tikus tersebut membantu seorang anak pemilik dan koki restoran terkenal, tetapi tidak mempunyai kemampuan memasak untuk mengembangkan bisnis ayahnya yang telah meninggal. Film ini udah lumayan lama, kayaknya muncul waktu awal-awal gue  masuk SMP. Seperti film-film Walt Disney lainnya, Ratatouille punya pesan moral dan makna yang bagus.


In many ways, the work of a critic is easy. We risk very little, yet enjoy a position over those who offer up their work and their selves to our judgment. We thrive on negative criticism, which is fun to write and to read. But the bitter truth we critics must face, is that in the grand scheme of things, the average piece of junk is probably more meaningful than our criticism designating it so. But there are times when a critic truly risks something, and that is in the discovery and defense of the new. The world is often unkind to new talent, new creations. The new needs friends. Last night, I experienced something new, an extraordinary meal from a singularly unexpected source. To say that both the meal and its maker have challenged my preconceptions about fine cooking is a gross understatement. They have rocked me to my core. In the past, I have made no secret of my disdain for Chef Gusteau's famous motto, "Anyone can cook." But I realize, only now do I truly understand what he meant. Not everyone can become a great artist, but a great artist can come from anywhere. It is difficult to imagine more humble origins than those of the genius now cooking at Gusteau's, who is, in this critic's opinion, nothing less than the finest chef in France. I will be returning to Gusteau's soon, hungry for more. -- Antoni Ego (Ratatouille)

Yang udah pernah nonton, filmnya bagus kan?
Kalau yang belom nonton, gak ada ruginya meluangkan waktu luang untuk menonton film ini :)

Cheers!

10 komentar:

  1. Gw belom pernah nonton nih, bikin mewek gak cky?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau mewek sih gue enggak haha cuma menggugah aja :D apalagi endingnya...

      Hapus
  2. jadi inget dulu pernah nonton film ini tapi gak sampe slese,,,hehehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha coba nonton lagi sampe abis bareng dedek rafa, kak riesta :p

      Hapus
  3. tikus jadi koki yah :D

    BalasHapus
  4. ini flm aku nontonnya kalo gak salah udah lama ......

    benar2 mengharukan dan spontan
    -,- indonesia pasti bisa buat yang lebih dari ini

    oke2

    >,<
    filmnyyaaa
    lagi2

    BalasHapus
  5. itu DVD-nya orijinal atau bajakan?

    BalasHapus
  6. kayanya pernah nonton nih yg Tikus jadi Koki, pernah ada di Tipi kan ya?

    BalasHapus
  7. saya sudah pernah nonton filmnya..dan memang bagus..aslinya pakai bahasa Perancis, dan film ini mampu mendobrak aturan restoran yang ada,,,karena koki-nya adalah seekor tikus, dimana kita tahu bahwa restoran itu standar kebersihannya tak boleh ada seekor tikuspun...tapi begitulah animasi selalu penuh dengan kreatifitas :)

    BalasHapus
  8. aah ini salah satu film animasi yang bagus, haha sama liatnya waktu jaman sekolah dulu. uh uda lama banget berarti ya

    BalasHapus

Terima kasih karena telah membaca tulisan ini. Happy reading, happy blogging!