Belakangan ini gue berpikir bahwa saat ini menjadi tidak gampang untuk menceritakan apa-apa saja yang gue alamin ke blog. Pertama, waktu terasa begitu cepat dan banyak sekali hal menarik yang terjadi di hidup gue, berikut juga dengan hal-hal yang tidak menarik, bahkan cenderung datar atau mungkin menyebalkan. Jadi, kadang suka bingung juga untuk cerita apa dulu, gimana dulu, apa-apa aja yang harus ditulis, dan apa-apa aja yang ga perlu ditulis. Entahlah, kayaknya makin besar itu makin gak enak, banyak yang harus dipertimbangkan, jadi sering ragu sendiri hahaha :))
Ngomongin hidup, di Padang ini gue mulai menemukan rumah yang lain, keluarga baru.
Bentar dulu, terharu. :')
Nemuin temen-teman yang tulus, menyenangkan, akrab, perhatian, mendukung, asertif, unik, suka ngasih makanan, suka minjemin duit hahaha. Memang bukan teman yang lembut, yang kalau ngomong bikin adem hati, tapi efeknya cuma semenit, bukan. Tapi, teman yang apa adanya dan bisa bikin kita lebih apa adanya. Priceless dan sesuatu banget, terutama bagi anak rantau kayak gue yang jauh dari keluarga.
Semoga awet...
Bisa jadi, tulisan ini terinspirasi dari kelas Kepribadian hari ini. Di mana mahasiswa disuruh memperkenalkan diri, dan menyebutkan hal yang menyenangkan dan tidak menyenangkan selama berada di kampus psikologi.
Awal perkuliahan, tepatnya awal-awal gue merantau ke Padang, rasa-rasanya setiap jengkal adalah hal yang tidak menyenangkan. Mulai dari kotanya yang lebih minimalis dibandingkan Jakarta, panasnya yang menyengat, transport yang lumayan susah, angkot yang berisik, logistik yang serba mahal, kampus yang tersudut, akses ke kampus psikologinya susah, jalanan ke kampus yang rusak waktu itu sehingga bikin sepatu cepet rusak, dan sebagainya. Tiap masuk kelas, yang kepikiran adalah 'kapan libur?'. Itu kalau gue inget-inget.
Haha, lalu sampailah pada kelas Kepribadian hari ini. Setelah gue terawang-terawang... ah, rasanya gak ada lagi yang tidak menyenangkan di sini. Gue lebih fasih membayangkan dan mengungkapkan hal-hal yang menyenangkan daripada yang tidak menyenangkan.
Liat, kan? Mencintai dan move on-nya itu cuma soal proses dan waktu. Seperti halnya gue yang mulai bisa mencintai kehidupan gue sekarang dan move on dari perasaan sedih gue karena jauh dari keluarga dan harus meninggalkan hidup gue, teman-teman gue, bantal guling gue di Jakarta. Sekarang gue sudah mulai mencintai bantal guling gue yang baru juga, meski gak seempuk di sana.
Kita hanya butuh ikhlas, bersyukur, dan terus berjalan.
PS: Jadi, siapa yang mau jadi bantal guling gue berikutnya? #dih
kayaknya udah ada yang betah banget di padang :D
BalasHapusBetah aja... Betah banget sih engga :p
HapusSemua emang butuh proses hehe. Bagus blognya dear, mind to follow each other? :)
BalasHapusThank you for following me, follow you back already :)
Hapusyang penting semangat terus ngeblognya...
BalasHapussemangat, bersyukur dengan apa yang ada
BalasHapus