Rabu, September 16, 2015

Gak Mau di Padang, Entar Dapet Jodoh Orang Padang

Ada kalanya, kita hanya ingin bermalas-malasan dan tidak mengusahakan apa-apa, sendiri, di dalam ruangan sepi, bersama dengan nasi padang dan menyantapnya tanpa beban. 
Tapi juga akan ada masa di mana yang kita inginkan adalah saling berbagi dengan orang lain, saling mengusahakan, di tempat yang terserah mau ramai atau sepi, yang jika tidak, maka kita akan merasa kesepian. 

...

Hari ini gue melakukan percakapan yang cukup panjang dengan salah seorang teman yang setelahnya kami berdua sadar kalau usia kami telah memasuki dua puluh satu, dan pertanyaan-pertanyaan "kapan wisuda?", "kapan dapat kerja?", "kapan berkeluarga?" akan segera hadir di depan mata. Gue juga jadi sadar kalau apa yang gue lakukan selama ini belum ada apa-apa, belum banyak bergerak, belum maksimal dalam mengusahakan apa-apa yang sebenarnya bisa gue usahakan. Gue berharap bisa menciptakan dan mendapatkan kesempatan untuk mengaktualisasikan apa yang gue mampu, gue bisa, gue suka. 

Kemarin, nenek gue sempat menanyakan apakah gue berniat untuk bekerja dan melanjutkan hidup di Kota Padang atau gak. Dari nada bicaranya dan isi percakapannya, sepertinya beliau berharap agar gue mau hidup lebih lama di Padang supaya beliau tidak perlu risau untuk tinggal menetap di kampung karena akan ada gue yang sering menengok dan menemaninya di rumah, di Payakumbuh (kurang lebih 4 jam dari Padang). Gue sendiri spontan mengatakan tidak pada awalnya, karena entah kenapa gue belum merasakan bahwa Padang adalah tempat yang tepat. Gue membayangkan untuk tinggal di kota lain, kalaupun nantinya harus tetap meninggalkan Jakarta. 
Hahaha gue jadi inget percakapan naif gue sama bokap nyokap waktu memutuskan untuk ngambil kuliah di Padang, "Ocky gak mau kuliah di Padang, soalnya gak ada 21", dan yang paling ngaco lagi "Ocky gak mau di Padang, entar dapet jodoh orang Padang..." dan orang tua gue ngakak sekencang-kencangnya. Sekarang gue cuma bisa menertawakan pernyataan gue itu karena pertama, ternyata masih banyak hiburan yang lebih menarik yang bisa gue temukan di Sumatra Barat, dan kedua... gue baru sadar kalau ternyata laki-laki minang itu cukup menjadi idola teman-teman perempuan gue di Jakarta justru, dan memang daya tarik mereka cukup tinggi sebenarnya hahaha.

Pesan moralnya adalah mungkin sekarang gue beranggapan bahwa Padang bukanlah tempat yang tepat untuk gue melanjutkan hidup kelak, tapi gue gak akan pernah tau apa yang gue alami di depannya... mungkin beberapa bulan ke depan justru gue gak bisa pergi dan jauh dari Padang karena merasa terlalu berat dan cinta. Ya kan? Jadi sekarang gue gak boleh menutup kemungkinan dan tetap mempersiapkan diri.

Semangat!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih karena telah membaca tulisan ini. Happy reading, happy blogging!