Coba tanyakan kembali pada dirimu, apakah dia benar ingin bahagia atau sekadar lupa tentang hal-hal yang tidak indah saja?
Kenapa harus takut bersedih, dan mencintai, hampir selalu membuatnya risih?
Coba tanya.
Coba, kenapa?
Bilang kepadanya, jangan diam saja dan berlagak pura-pura.
Tuh, kan. Dia tahu benar apa jawabannya. Cuma, lihat saja gayanya; otaknya sibuk mengukur karena pernah babak belur. Pura-pura mati rasa, padahal hatinya selalu hidup, meskipun agak redup.
Coba, mau sampai kapan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih karena telah membaca tulisan ini. Happy reading, happy blogging!