Rabu, Juli 15, 2020

Lima Belas Juli

Tanggal di hari ini adalah tanggal hari pertama gue bekerja di tempat gue sekarang, tepat setahun lalu.

Haha...

Tepat setahun lalu, di tanggal ini, gue mengambil langkah yang cukup besar di dalam hidup. Untuk pertama kalinya gue meninggalkan rumah setelah sekitar 1,5 tahun gue memutuskan untuk tetap tinggal sampai semua hal berjalan dengan normal setelah kepergian papi.

Normal? Pemilihan kata yang terlalu abu-abu. Sebenarnya, apa sih normal itu? Entah juga. Jelasnya, menurut gue saat itu, gue akan tetap di rumah sampai mami berhenti menangisi kepergian papi. Sampai gue yakin mami akan baik-baik saja nantinya ketika gue akan tidak bisa terlalu siap untuk selalu berada di sekitarnya. Karena gue tau, pasti berat banget buat mami. Dan gue terlalu takut ada apa-apa dengan mami nantinya.

Waktu papi masih ada, segala-galanya berada di bawah kendali papi. Perihal bayar tagihan, seluruh jenis birokrasi negara yang ada kaitannya dengan kehidupan berumah tangga, dan apapun yang kaitannya dengan pengadaan kebutuhan alat-alat, serta bagian perbaikan-perbaikan di rumah, semuanya papi yang urus dan kita semua tinggal terima beres. Papi urus semuanya, tanpa pernah ada bantuan tukang/jasa. Makanya kita bahkan gak pernah punya pengalaman sewa jasa/tukang buat bantu ngatasin masalah di rumah.

Mami hampir gak tau apa-apa perihal hal-hal yang biasa papi urus. Mungkin memang antara papi terlalu memanjakan mami, atau cuma gak mau repot aja kasih tau tugas-tugas itu ke mami karena mami memang suka terima beres dan gak mau ribet sepertinya pembagian tugas untuk mami adalah full mengurus segala sesuatunya tentang anak dan mengurusi kebutuhan harian keluarga. Nah, kalau soal itu baru papi hampir gak mau repot sama sekali hahaha.

Kebayang gak, apa yang terjadi dengan keluarga kita pasca papi pergi secara tiba-tiba waktu itu? Hahaha... Ya Allah, Pi! Rempong bener! Dan gue merasa kalau mau gak mau, sebagai anak pertama, gue harus menggantikan peran-peran itu. Bisa gak bisa ya harus belajar, minimal mencari tau jalan apa yang harus ditempuh agar semuanya bisa teratasi.

Mau gak mau gue harus bisa nyetir mobil.
Mau gak mau gue harus belajar urus ini itu.
Mau gak mau gue harus bisa jadi yang lebih kuat dan stabil di antara semua, walaupun perasaan guepun masih sangat babak belur karena baru kehilangan orang yang sangat gue sayangi.


Di samping kesulitan dan kesedihan yang ada, serta yang masih sesekali muncul di hari ini, gue pun paham, sadar, dan yakin bahwa Allah selalu sayang sama kita, makhluknya.
Semua diatur sedemikian seru tanpa terduga. Kita dibuat sakit, dibuat sedih, dibuat bingung, tapi sebenarnya cuma lagi dikasih kesempatan untuk belajar, dituntun, dan pada akhirnya diberikan hikmah yang luar biasa.

Tepat setahun di hari ini, Allah ajarkan gue bahwa segala kerisauan dan ketakutan itu adanya hanya di kepala. Gue harus berani hadapi dan terus berjalan, kejar apa yang mau gue kejar, melanjutkan hidup. Gue cuma perlu memulai dan melangkah-langkah meski kecil, perlahan, dan tertatih. Papi pasti juga gak mau kalau gue terus menerus tidak memikirkan dan melanjutkan masa depan.

Jangan takut, Allah pasti jaga apa yang seharusnya terjaga, Allah pasti sembuhkan apa yang seharusnya tidak sakit lagi, perlahan, bersama dengan waktu.

Bismillahirrahmanirrahim

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih karena telah membaca tulisan ini. Happy reading, happy blogging!