Beberapa waktu lalu gue menemukan sebuah video di FYP Toktik gue. Video tersebut membahas tentang teknik penyembuhan inner child untuk mengatasi luka lama yang pernah muncul saat usia kecil. Sejujurnya gue gak terlalu menanggapi video tersebut secara serius, tapi gue berpikir gak ada salahnya untuk mencoba. Hitung-hitung menghabiskan waktu luang sambil bersantai.
Tekniknya adalah kita diminta untuk menutup mata, lalu membayangkan dan mengingat momen masa kecil kita yang paling membekas. Saat berhasil membayangkan, kita diminta untuk mengevaluasi anak tersebut (di mana itu adalah kita sendiri) dan jabarkan hal-hal apa saja yang paling tidak kita sukai dari dirinya. Setelah itu, kita bayangkan diri kita memeluk anak tersebut sambil menuturkan afirmasi-afirmasi positif.
-------
Gue gak akan membahas teknik tersebut lebih lanjut karena gue sendiri belum pernah tau bukti dan penjelasannya secara ilmiah. Yang mau gue bahas adalah gambaran masa kecil yang gue bayangkan. Terdapat dua bayangan masa kecil yang setelah gue ingat-ingat, bayangan tersebutlah yang selalu muncul ketika gue mengingat momen masa kecil gue secara sengaja maupun tidak.
Pertama adalah bayangan seorang Ocky Kecil dengan baju seragam batik TK berwarna biru dan rok biru mudanya yang lucu dengan tali seperti model tali spandex. Di bayangan itu Ocky Kecil mencoba mendekati segerombolan anak-anak perempuan yang sedang asik bermain. Ocky Kecil berharap mendapatkan teman pertamanya di sekolah.
"Ih kamu... sana, udah sempit kita ga mau main sama kamu..." begitulah kira-kira tanggapan gerombolan anak perempuan tersebut.
Jelas, saat itu bukanlah teman pertama yang didapatkan oleh Ocky Kecil, melainkan penolakan pertama.
Gue gak terlalu ingat apa yang Ocky Kecil rasakan saat itu, yang gue ingat adalah sejak saat itu Ocky tidak pernah berusaha mendekati teman-teman lainnya lagi dan memilih untuk bermain sendirian sampai ada yang mengajaknya bermain lebih dulu. Atau Ocky akan mencoba mendekati anak-anak lain yang sepertinya kesepian. Di bayangan itu gue melihat wajah Ocky Kecil yang dengan diam dan datar memandangi gerombolan anak perempuan tadi, sambil pelan-pelan berjalan mundur.
Kedua adalah bayangan Ocky Kecil bersama dengan almarhum Papi. Saat itu mereka duduk di parkiran sebuah pasar untuk menunggu Mami yang sedang mengambil belanjaan ke dalam pasar. Pada masa itu, hubungan Ocky Kecil dan Papinya cukup tidak baik. Papi dan Ocky tidak pernah akur, sehingga bisa dipastikan hampir tidak pernah ada momen mereka berdua di tempat yang sama.
Posisi duduknya saat itu adalah Papi di bangku supir dan Ocky duduk di bangku belakang. Papi sedang asik mendengarkan lagu dangdut dan Ocky sibuk sendiri di belakang.
Tiba-tiba Papi mengecilkan volume musik, lalu berbicara, "Ocky dulu suka lagu dangdut, pintar sekali nyanyinya. Cuma gak tau deh, mungkin ada yang ledekin kali ya... jadinya Ocky sekarang udah malu dengar lagu dangdut."
Ocky hanya merespon seperlunya saat itu. Kemudian Papi melanjutkan bicara, "Dulu Papi senang sekali lihat Ocky nyanyi dangdut. Lucu, pinter nari. Papi suka rekam dan Papi simpan, terus Papi pamerin ke teman-teman karena anak Papi lincah dan cerdas."
Ockypun terdiam di bangku belakang, lalu meneteskan air mata. Ocky berusaha menahan diri supaya Papinya tidak tau kalau dirinya menangis saat itu.
Bagi Ocky Kecil, momen mendengar pernyataan papinya semacam itu adalah hal yang membingungkan. Tiba-tiba beliau mengungkapkan perasaan bangganya kepada Ocky. Tentu ada perasaan senang, kaget, dan terharu. Tapi di sisi lain Ocky Kecil juga meragukannya karena merasa bangganya Papi terhadap dirinya itu tidak pernah benar-benar terasa karena sehari-hari Ocky Kecil sering kali menerima kritik dan makian kasar tiap kali membuat kesalahan, serta selalu merasa diremehkan sebaik apa pun prestasi yang dihasilkan.
-------
Kembali lagi kepada teknik penyembuhan inner child dari video tersebut. Jujur, saat gue mengevaluasi hal yang tidak gue sukai dari diri gue di masa kecil, yang terlintas di pikiran gue adalah tidak ada. Tidak ada yang gue tidak suka dari Ocky Kecil. Dia tidak takut sendirian, mentalnya kuat jauh melampaui usianya. Dia mampu berpikir mandiri dan berhasil melawan apa pun yang membuatnya sedih, serta berusaha tidak terpuruk walaupun orang yang jadi harapannya untuk mendukung, menghibur, dan mendampingi dirinya justru selalu membuat hatinya merasa kecil hati dan kebingungan.
Walaupun gue bangga dengan Ocky Kecil, rasanya memang ada hal-hal yang perlu diluruskan. Hal-hal itu yang mungkin berpengaruh terhadap gue di usia yang lebih besar, seperti cara gue memendam perasaan, serta skeptis dengan orang lain yang berusaha mendekat dan mengungkapkan kasih sayang.
Gue juga terlalu mengalah dan mendahulukan orang lain sampai-sampai sering mengesampingkan diri sendiri karena menganggap diri sendiri tidak lebih penting. Akibatnya malah menimbulkan masalah di kemudian hari, juga kesedihan mendalam yang tertahan sampai akhirnya meledak dengan kemarahan kepada orang-orang terdekat, juga ke diri sendiri.
Dear Ocky Kecil,Tidak apa-apa kalau kamu belum paham bahwa penolakan tidaklah menjadi ukuran keberhargaanmu. Kamu akan menemukan sahabat-sahabat yang bersedia menerima dan mampu memahamimu, meski dalam diammu sekalipun.Tidak apa-apa kalau kamu belum paham bahwa bersedih bukanlah tanda kelemahan dan marah bukanlah tanda kekuatan. Menangis saja meraung sesenggukan, supaya mereka paham bahwa kamu punya perasaan juga.Tidak apa-apa kalau kamu belum paham bahwa mempertahankan apa yang menurutmu penting bagi dirimu sendiri bukan berarti kamu egois.Kadang orang lain mencintaimu dengan cara-cara yang kamu tidak pahami, tapi cinta adalah cinta. Kamu hanya perlu melihatnya dengan lebih sederhana, sesederhana melihat lelahnya ayahmu bekerja demi gizi makanan dan mudahnya fasilitas supaya kamu selalu semangat belajar.Kamu harus tahu dan percaya kalau kamu dicintai.
-------
Dear Ocky Hari Ini,
Seperti sebelumnya, semua akan baik-baik saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih karena telah membaca tulisan ini. Happy reading, happy blogging!