Ini berat,
ketika kita memutuskan untuk bergerak dari titik aman menuju titik tumbuh yang penuh
dengan tanda tanya; bagaimana jika? Kehilangan seseorang yang menjadi pusat dunia
telah mengarahkan pola pikirku paling tidak pada dua hal; berhenti berencana
dan siap untuk hancur tiba-tiba. Sebuah ambivalensi yang membingungkan, menjadi
siap tanpa merencanakan apa-apa, membuatku menjalani hidup tanpa rasa aman dan secara
otomatis mengaktifkan mode bertahan.
Namun percayalah
bahwa, meski kelelahan, aku berusaha menjalani hidup, membangun keinginan-keinginan
baik, yang meski tidak luas, paling tidak pada hidupku sendiri setiap harinya.
Bertahanlah ya, Aku?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih karena telah membaca tulisan ini. Happy reading, happy blogging!