"You're smart. You'll figure it out." — Project Hail Mary
Mendengar kutipan dialog dalam Project Hail Mary tersebut membuatku sontak terdiam. Rasanya dadaku tiba-tiba terasa sesak dan mataku terasa panas. Ada sesuatu yang tertidur panjang, lalu terbangun ketika kalimat itu dilontarkan Eva Stratt kepada Ryland Grace pada adegan Dr. Grace mengungkapkan ketakutannya untuk mengikuti misi bunuh diri Hail Mary. Hal itu mengembalikan aku pada kabut ingatan yang mengubah cara pandanganku terhadap hubunganku dengan Ibu.
Dulu, aku menyimpan sebuah kemarahan yang begitu besar kepada ibuku. Aku selalu merasa beliau tidak pernah mengerti aku—bahkan rasanya, beliau memang tidak pernah berniat untuk mengerti. Sebab hal itu, dan karena satu dan lain hal, hubungan emosional kami menjadi berjarak. Ibuku tidak pernah menanyakan perasaanku. Dia juga merasa bahwa beliaulah pemegang kendali atas hidupku, serta sudah pasti tahu apa pun tentangku tanpa perlu aku jelaskan. Aku seolah tidak diberi pilihan dan dituntut untuk menuruti kehendaknya dalam setiap aspek kehidupan. Walaupun sebenarnya sempat saat itu rasanya tidak mengapa. Aku adalah anak yang ingin selalu membanggakan orang tua, sehingga akan mengikuti dan menerima apa saja arahannya. Meski sering juga tidak setuju, aku terus meyakini bahwa yang dilakukan orang tuaku adalah cara mereka menyayangiku.
Kembali pada Ibu, di sisi lain, beliau tidak pernah benar-benar punya waktu untuk menjelaskan atau mengajariku secara langsung tentang bagaimana cara menjalani hidup, khususnya sebagai seorang perempuan. Beliau hanya menyuruh dan melarang, tanpa keterangan. Aku hanya melakukan dan menghindari, tanpa tapi.
Dalam banyak hal—hampir semua, aku berusaha memahaminya seorang diri. Tumbuh sebagai anak yang memiliki rasa ingin tahu yang besar, dengan banyaknya pertanyaan di kepala, membuatku sering kali kebingungan sendirian. Belum lagi, banyaknya jawaban salah yang aku terima dari hasil pencarianku membuatku frustrasi. Aku merasa tidak memiliki seseorang yang tepat dan bersedia untuk aku tanya. Tidak jarang aku merasa marah dan kesepian.
Pada satu hari, amarah dan rasa sesak yang kupendam akhirnya memuncak. Rasa frustrasi itu tidak tertahankan, aku ingin jawaban. Aku tumpahkan semua isi pikiran dan hatiku kepada Ibu, dengan raungan selayaknya anak kecil yang tidak nyaman dan kesakitan. Menangis, hingga bengkak dan sesenggukan. Tapi, respons yang kudapat sungguh di luar dugaanku. Beliau hanya menjawab dengan singkat dan dingin:
"Ibu heran sama kamu ini. Kamu itu kan biasanya pintar, sudah pula disekolahkan. Harusnya kamu bisa paham, ya cari tahu saja sendiri."
Kalimat itu seketika membuatku bungkam. Perasaanku rasanya langsung mati saat itu juga. Aku tersadar, menunjukkan apa yang kurasakan hanya akan menjadi hal yang percuma; ibuku tidak akan pernah mau mengerti. Beliau hanya tahu dan percaya bahwa aku adalah anak yang pintar yang akan memahaminya sendiri. Sebuah kepercayaan yang entah mengapa justru membuatku merasa sangat, sangat bersedih. Kesedihan itu semakin terasa menghancurkan saat pengabaian itu muncul dari satu-satunya sosok yang aku harapkan menjadi tempat teraman ketika dunia runtuh berhamburan. Hanya karena aku dianggap pintar berenang, aku pantas ditinggalkan sendiri di tengah samudera lautan. Seperti Dr. Grace yang dibiarkan terombang-ambing di luar angkasa, meski tahu dia akan tidak kembali dan pelan-pelan mati. Sejak saat itu aku belajar, berjanji pada diriku sendiri, dan selalu berusaha sekuat tenaga untuk tidak lagi pernah menangis di depan ibu.
Siapa sangka, menonton film fiksi justru membawaku ke dalam ingatan nyata bahwa aku tumbuh menjadi anak yang tidak hanya mempertanyakan banyak hal di kepala dan berusaha memahaminya, tetapi juga anak yang terus menekan perasaannya, sendirian. Meskipun begitu, kabar baiknya aku masih hidup dan baik-baik saja hingga hari ini, tampaknya. Aku tidak lagi marah dan terus melapangkan dada, sambil memeluk anak kecil dalam diriku yang dulu terluka karena badainya, hingga nanti benar-benar reda. It's okay, Mom. I'll figure it out.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih karena telah membaca tulisan ini. Happy reading, happy blogging!