Selama empat hari (13 s/d 16 Juni 2013) gue mendapat kesempatan untuk mengikuti Simposium Kesehatan Jiwa 2013 yang diselenggarakan oleh Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Awalnya gue sempat ragu mengikuti kegiatan ini karena syaratnya adalah mengirimkan sebuah essay mengenai isu-isu terkait kesehatan jiwa di perkotaan/industri/pendidikan, kemudian diseleksi dulu, jadi belum tentu keterima. Ternyata, Universitas Andalas merupakan salah satu universitas undangan, jadi gue bisa mengikuti acara ini secara cuma-cuma dengan menjadi salah satu dari 3 orang delegasi yang dijatahkan. Sebenarnya gak cuma-cuma juga, sih. Delegasi ini wajib membuat position paper mengenai tema serupa. Bedanya, peserta sudah pasti ikut karena tidak ada penyeleksian position paper. Walaupun begitu, keraguan gue bukan hilang sama sekali. Gue sempat merasa kurang berkompeten untun mengikuti simposium ini, membahas RUU Kesehatan Jiwa. Alasannya adalah gue baru tingkat satu, baru kelar semester 2, gue merasa belum cukup mempunyai konten dibandingkan peserta lainnya. Hal yang membuat gue optimis dan percaya diri untuk ikut adalah keinginan gue untuk belajar banyak dalam acara ini. Itu aja.
Simposium ini mengangkat tema: Membangun prespektif kesehatan jiwa dengan pendekatan preventif dan promotif. Acara ini, menurut gue, kurang lebih dilaksanakan karena hasil dari menimbang draft RUU Keswa yang dinilai tidak mencangkup kesehatan jiwa secara menyeluruh. Isi dari draft RUU ini kebanyakan hanya menyinggung tentang orang dengan gangguan jiwa (ODGJ), dan mengedepankan peran psikiatri dalam penanganannya. Padahal, kita tau bahwa kesehatan jiwa adalah milik semua orang (baik yang terganggu, maupun yang berisiko). Kesehatan jiwa adalah aspek penting. Keswa harus selaras dengan kesehatan fisik. Banyak kekacauan di negeri ini terjadi akibat dari jiwa yang tidak sehat. Maraknya mutilasi, stress di perkotaan, human trafficking, prostitusi, tawuran pelajar, bullying, stress kerja, dsb. Sehingga, hal-hal itu memicu ketidakmaksimalan seseorang dalam menjalani hidupnya. Akibatnya timbul kekacauan, dan generasi yang bobrok.
Dalam menciptakan kesehatan jiwa di Indonesia, harus adanya gerakan-gerakan promotif dan preventif, tidak hanya melulu tentang gerakan kuratif dan rehabilitatif. Istilahnya, selain menyembuhkan orang dengan gangguan jiwa kronis (psikotik), kita juga mencegah jangan sampai yang lain menjadi kronis, toh semua orang berisiko memiliki gangguan jiwa (neurotik), kan? Tidak ada yang benar-benar normal. Pada gerakan promotif dan preventif inilah peran psikolog banyak dibutuhkan, yaitu dengan merancang hal-hal untuk mendukung kesehatan jiwa itu sendiri. Misalnya dengan merancang perkotaan, industri, dan pendidikan dari aspek psikologisnya. Saatnya ilmuan psikologi dan para psikolog muncul ke permukaan untuk bersama membangun bangsa. Untuk itu juga, sempat ada bahasan bahwa para psikolog harus diberikan ruang yang jelas dalam pengaturan pemerintahan. (yang ini bahasannya panjang, bisa satu artikel sendiri, lebih baik kita skip).
Acara berjalan dengan melelahkan, tetapi juga menyenangkan, dari awal sampai akhir. Hari pertama dimulai dengan registrasi peserta, menempati kamar tempat menginap, dan pembahasan tata tertib sidang. Hari kedua dijadwalkan untuk seminar mengenai RUU Keswa bersama dr. Nova Riyanti Yusuf, SpKj., dr. G. Pandu Setiawan, SpKj., dan Dr. Nani Nurrachman Sutoyo, kemudian dilanjutkan dengan focus group discussion oleh masing-masing komisi perkotaan/industri/pendidikan. Gue sendiri masuk dalam komisi perkotaan, di komisi pendidikan ada Kak Angel, dan pada komisi industri ada Steffi, wakil dari Unand. Hari ketiga penuh dengan FGD, membahas dan mengaji RUU Keswa, kemudian diadakan sidang pleno tentang pembahasan rekomendasi mahasiwa psikologi terkait RUU Keswa kepada DPR. Pembahasan dalam sidang pleno ini cukup alot karena dikritisi oleh para ahli. Hari keempat adalah penutupan simposium, sekaligus pembacaan deklarasi dukungan terhadap Undang-Undang Kesehatan Jiwa.
(Komisi Perkotaan)
Terakhir, gue mengapresiasi kerja panitia yang sangat baik. Salut, deh, buat kalian semua (para panitia)!
Peserta Simposium Kesehatan Jiwa 2013




ini aneh.. ketika seekor gadis berceloteh.. maksudnya gan? :D
BalasHapuskarena yang nulis gadis gan
BalasHapuslah ocky cewe kali
BalasHapusIni pada kenapa sih -,-
BalasHapusOOT ya ^^'
BalasHapuskegiatan yg kreatif dan bermanfaat, terusss rencana ke depan buat meningkatkan kesehatan jiwa masyarakat kek gimana Ukhti?
dari mulai diri sendiri dulu pastinya. tapi harus ada sosialisasi dulu mengenai pentingnya kesehatan jiwa di masyarakat luas. memberikan pemahaman untuk masyarakat bahwa orang dengan gangguan jiwa itu harusnya segera dilaporkan supaya ada penanganan yang tepat, bukan malah dikucilkan atau sampai dengan dipasung, bahkan. intinya sih bikin gerakan berbasis masyarakat sepertinya akan lebih efektif. percuma juga kalau ada UUD keswa tapi masyarakatnya gak paham mengenai keswa itu sendiri.
Hapusblog lo dibajak lagi ky?
BalasHapusgayakin ini lo yang nulis..
emang tersongong :)
Hapusbaru liat blog ini, bikin kangen ikut acara kayak begini lgiii selagi menyandang status jadi mahasiswa
BalasHapus