Kamis, Agustus 04, 2016

Dia

Dia tak perlu semanis cinta pertamaku, yang kuanggap begitu dulu. Tak perlu berkulit sawo matang seperti yang sudah. Dia tak perlu seperhatian laki-laki yang aku sulit lepas dari sosok seperti itu, dulunya. Dia tak perlu sesupel kebanyakan lelaki di sekelilingku, tak perlu sesama penyuka kopi dan buku. Tak peduli bila selera musiknya aneh, makanan kesukaannya sulit dicari, dan tempat favoritnya berbeda dari kebanyakan orang.

Sebab, mungkin aku tak juga sebaik cinta pertamanya, secantik yang sudah-sudah, seideal wanita-wanita  yang pernah ada dan masih ada di sekelilingnya. Sebab, aku tak mau menjadi orang yang bukan aku, tak mau juga dia begitu. Aku ingin kami saling mencintai satu sama lain sebagai aku dan sebagai dia adanya.

Untuk aku yang sering kali rumit, laki-lakiku harus lebih sabar daripada aku. Harus pantang menyerah. Tak perlu banyak memuji, cukup jadikan aku yakin pada versi terbaik dari diriku sendiri, dan membuatku berpikir maju untuk memaksimalkannya. Menjaga apa yang aku jaga, membantuku lepas dari hal buruk yang tidak sebaiknya aku bawa. Akupun ingin dia memberi kesempatan kepadaku untuk memahami dirinya juga, menjadi wanita yang diandalkan, dan menemani langkah-langkahnya.



Kami harus jadi dua pahlawan super yang sama kuatnya, meski senjatanya laser dan aku api. Kami harus mampu bertanggung jawab pada diri sendiri, juga satu sama lain. Harus sama-sama cerdas, meski tak selalu sama pendapat. Belajar saling memahami, menerima meski kadang tak sepaham. Saling menopang, melengkapi, mendukung, menjaga, mencintai dengan bijaksana. Sebab, mungkin cinta memang perkara dua orang yang saling merasa dan melibatkan. Namun lebih dari itu, kelak akan ada usaha-usaha dan masa depan yang harus dijalani bersama. Tak lagi hanya berdua, tapi mungkin bertiga, berempat, atau berlima. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih karena telah membaca tulisan ini. Happy reading, happy blogging!