Senin, April 04, 2016

Memilih dan Memandang Teman

I procrastinate because I am stressed. I am stressed because I procrastinate. Begitulah kira-kira keadaan gue akhir-akhir ini. Memang kenyataan gak selalu sesuai dengan ekspektasi kita, situasi jatuh kadang bikin kita jadi stres dan males ngapa-ngapain, tapi di sisi lain gue yang gak biasa menunda-nunda pekerjaan malah makin stres karena terlalu banyak buang-buang waktu untuk gak ngapa-ngapain. Jadi? Ya begitulah kira-kira... 

...

Seseorang bertanya tentang bagaimana gue memilih teman, dan memandang seorang teman.

Gak semua temen gue jalan hidupnya lurus, walaupun di kehidupan, gue cenderung lebih memilih bergaul dengan mereka yang gaya hidupnya lurus-lurus aja. Tapi bukan berarti gue anti temenan sama mereka yang doyan dugem, mabok, freesex, judi, atheis, homoseksual, kata orang aneh (selama bisa dijadiin temen dan mau temenan sama gue). Gue cuma agak anti temenan sama orang yang suka maksa-maksa ikut MLM, yang jelas-jelas sering merugikan gue hahaha
Seperti halnya gue yang gak suka hidupnya terlalu diatur orang lain, gue juga gak pernah berniat mengintervensi hidup temen-temen gue. Semua punya pilihan masing-masing dalam hidup, dan gue percaya kalau hidayah itu murni pemberian dari Allah, tugas gue sebagai temen cuma bisa jadi pendengar dan berusaha kasih contoh/pendapat yang menurut gue baik (selanjutnya, terserah bagaimana mereka mengambil kesimpulan). Itu pula hal yang gue harapkan dari teman gue ke gue. 
Berteman itu  salah satu sarana pertumbuhan personal, yang sebenarnya mau tumbuh lebih baik atau lebih buruk itu tergantung kitanya dalam mengambil hikmah. Dan balik lagi, baik-buruk setiap orang itu bisa aja berbeda dan berubah, kalau gue berusaha jadiin budaya dan agama gue sebagai patokan moral. Orang lain ya terserah.

Selain itu pola asuh juga mempunyai pengaruh terhadap cara gue memilih teman.

Nyokap gue bukanlah orang yang frontal dalam berbicara, latar belakangnya yang seorang guru membuat cara bicaranya, perilakunya lebih terarah dan hati-hati sekali. Bokap gue juga sebenarnya bukan orang yang sembarangan dalam berkomunikasi dan bertindak, tapi beliau lebih lugas dan frontal dalam mengungkapkan sesuatu. Bokap mengajarkan gue untuk berpikir dari berbagai macam sudut pandang. Agamis-realistis, begitulah kira-kira cara gue mendeskripsikan bokap. Sedangkan tante gue, adek nyokap, yang notabene udah kayak ibu kedua gue adalah tipe orang yang asal-asalan, lugas, cenderung gak ada filter kalau ngomong, hidupnya juga gak lurus-lurus amat, selalu ngajarin jadi orang royal dan loyal, tapi jangan bego. Latar belakang beliau bikin hidupnya lebih realistis. 
Punya mereka sebagai model mungkin membuat gue jadi orang yang kayak sekarang. Gak bisa dipungkiri, pola asuh dari mereka berdampak besar bagi kepribadian gue, cara gue memandang kehidupan dan orang lain, termasuk cara gue berteman. Hati-hati, mengikuti ajaran agama, tapi tetap realistis. 

Kadang malah jadinya abu-abu sih antara agamis dan realistis, kalau udah gitu ya tergantung pilihan yang gue anggap paling baik aja. Berhubung manusia itu kompleks, dan gue itu masih manusia, gue pun juga begitu... kompleks.


Tertanda,
Ocky yang lagi belajar mempelajari motif dari perilakunya sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih karena telah membaca tulisan ini. Happy reading, happy blogging!