Sabtu, Oktober 01, 2022

Telepon

Malam itu aku bermimpi mencoba menghubungi Papi melalui telepon. Jelasnya tidak ingat, tapi yang jelas ada momen di mana aku mencoba menghubunginya terus menerus tetapi tidak pernah ada jawaban hingga aku kebingungan sekali. 

"Papi kok gak angkat-angkat telepon Ocky sih, Pi?" Gerutuku sendiri dalam hati. 

Ada perasaan takut dan khawatir, ditambah sedikit kesal karena Papi tidak kunjung juga mengangkat dan memberi jawaban. Sesak, sedih, dan kebingungan.

"Duh, apa jadinya kalau gak ada Papi? Semua pasti berantakan kalau gak ada Papi. Angkat, dong?" Aku mulai panik, entah apa yang berantakan? Tapi pikiranku berkata demikian. 

Sekian waktu, Papi tak kunjung mengangkat panggilan telepon dariku. Aku khawatir hingga dadaku sesak, lalu aku terbangun membuka mata, linglung. Masih berpikir dan bertanya-tanya Papi ke mana, ya? Padahal aku telah bangun dari tidurku saat itu. Tetap sesak. Padahal aku telah bangun dari tidurku saat itu.

Kuatur nafasku perlahan sambil kuusap-usap dadaku, beristighfar. Kuatur pula pikiran dan perasaanku perlahan.

Dia memang tidak akan pernah menjawab teleponmu lagi, Ky. Tapi semua akan baik-baik saja. Tenang, tidak ada yang berantakan.

2 komentar:

Terima kasih karena telah membaca tulisan ini. Happy reading, happy blogging!