Tiga tahun bekerja selama 26 hari dalam satu bulan, tanpa waktu cuti, dan tinggal cukup jauh dari rumah membuat aku banyak kehilangan momen bersama keluarga dan diriku sendiri. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk mengundurkan diri tiga bulan lalu. Sebenarnya, tiga bulan berlalu tidak banyak hal yang terjadi. Ketika memutuskan untuk mengundurkan diri, aku tidak merencanakan apapun selain karena munculnya keyakinan untuk berhenti sejenak. Berhenti mengejar yang entah apa.
Ya, sudah tiga bulan berlalu dan tidak banyak hal yang terjadi selain hadirnya perasaan seperti perlahan kembali utuh. Seperti kepingan puzzle acak yang perlahan tersusun dan menempel kembali membentuk pola aslinya. Meski tidak bayak hal, aku merasa bahwa sedikit itulah yang aku butuhkan saat ini.
Tiga bulan dengan lebih banyak di rumah saja membuatku bisa setiap hari bertemu dengan Ibu dan adik-adik di rumah. Aku juga memikirkan resep makanan yang akan kumasak untuk keluarga setiap harinya mulai dari merencanakan, berbelanja bahan masakan ke pasar, bertemu dengan penjual dan ibu-ibu sesama pembeli di pasar, lalu berdiskusi dan menggerutu karena harga bahan pangan semakin mahal saja. Somehow, it felt really therapeutic.
Sejujurnya, aku sempat agak lupa cara berbelanja ke pasar dan kaku menawar pada awal-awalnya. Aku juga agak lupa jenis-jenis bahan masakan yang ada. Tapi seiring waktu aku bisa lebih luwes dan lebih bawel, menghayati peran emak-emak di pasar, tidak mau kalah dengan yang lain hehehe...
Jika kita berbelanja di pasar swalayan, tentu lebih mudah karena di produknya tertera nama dan harganya dengan jelas. Berbeda dengan di pasar. Kita harus aktif berkomunikasi dengan penjual agar bisa pulang membawa barang yang kita butuhkan. Terakhir ada satu kejadian yang cukup menggelitik ketika aku dimintai tolong oleh ibuku untuk membeli beberapa bahan untuk membuat ramuan jamu, yaitu jahe emprit, kapulaga, cengkeh, kayu manis, dan daun sirih. Ketika sampai di kios di pasar, ternyata penjual sedang tidak ada dan digantikan oleh adiknya yang tidak berpengalaman.
Ocky: "Teh, saya beli jahe emprit ada gak?"
Penjual: "Duh, jahe emprit yang mana ya, Teh?"
Ocky: "Duh, saya juga gak tahu lagi, saya disuruh ibu saya saja."
Penjual: "Sebentar ya, Teh, saya video call dulu nih buat tanya."
Ocky: "Sekalian beli kapulaga, cengkeh, kayu manis, sama daun sirih."
Penjual: "Itu yang mana ya, Teh?"
Ocky: "Hahaha saya juga gak tahu... ya sudah saya Google saja, carikan ya Teh."
Akhirnya aku mencari di Google untuk semua bahan-bahan yang mau kubeli, lalu kami berdua sibuk bekerjasama mencocokkan bahan yang ada sesuai gambar di Google. Dua orang lugu berkolaborasi, atau dua orang bodoh?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih karena telah membaca tulisan ini. Happy reading, happy blogging!